Masihkah ada rasa untukku

“dina, di seonggok hatimu walau hanya se-sel, masihkah ada namaku disana?”
Aku diam hanya memandang pesan yang bejibun masuk ke HP ku,. Ku tekan huruf demi huruf dengan ragu lalu kuhapus lagi, takut salah membuat kata-kata lewat pesan singkat.
“dina, di hatimu yang baru, masihkah ada cinta untukku?.”
SMS berikutnya masuk, katanya hanya berbeda, namun tetap sama meminta pengakuan yang sama.
“dina, masihkah engkau mencintaiku?”
Aku menghela nafas, ini sudah pesan yang kesekian kalinya kuterima tentunya dari orang yang sama.
---
    Kenangan itu masih mengalir begitu saja. Saat aku masih berada dalam depresi yang mengisi hari-hariku. Ada kau yang selalu buatku tersenyum. Belum lagi hubungan yang membuat di bully habis-habisan satu sekolah. Hahaha aktifis pacaran. Itu telah menodai namaku dan namamu. Sebelum akhirnya ku baca buku yang tertulis oleh tinta amarah. Buku merah itu yang membuat hatiku terbuka, masih ada cinta yang lebih besar khendak kucapai. Cintaku pada-Nya dan pada kekasih-Nya. Seharusnya kau menanyakan itu padaku sayang, alasanku memutuskanmu pada ikatan yang menjerat kita, bukan, bukan karena tak ada cinta, hanya saja hatiku terjatuh pada cinta lain yang tak bisa untuk kutinggalkan.
    Belum genap dua bulan kita putus engkau dekat dengan si dia yang baru. Aku sama sekali tak cemburu. Hanya saja aku kecewa, kau belum mengerti maksudku meminjamkanmu buku merah itu, bergambarkan hati yang patah berisi amarah yang membuncah pada aktivis baku syahwat itu. Kau nampaknya belum berubah, malah semakin parah dari sebelum engkau ku kenal. Tak cukupkah alasanku untuk menyudahi, tak percayakah kau pada alasanku memutuskanmu.
Setelah berbuka puasa…
“Mmm bolehkah aku bertanya padamu?. Masihkah ada rasa untukku?”
Aku sengaja mengirimkan pesan untukmu untuk sekedar mengetahui jawabanmu. Tidak berharap jawabannya akan sama dengan jawaban Khalifah Umar bin Abdul Azis ketika ditanyai wanita yang menjadi idamannya.
“aku bingung” kau balas setelah sekian lama aku menunggu.
“kenapa tinggal kau jawab, mudahkan?” balasku
“tidak kau tidak mengerti, tolong- tolong jangan kau bahas ini lagi. Mengapa kau bahas ini? Sudahlah aku tak bisa jawab”. lanjutnya
“okay fine, kalau begitu kita saling melupakan. Tolong ketika aku khilaf jangan pernah balas SMSku lagi apapun itu, jangan pernah sekalipun. Ingat pesanku ini. Tolong!.
Semenjak itu, tak ada lagi pesanmu untukku.
---
Sudah hampir 6 bulan setelah kejadian itu kau sibuk dengan urusan kuliahmu, dan aku juga sibuk dengan proses pengkaderan yang kujalani saat ini. Besok aku kekampus, tiba-tiba malam itu, sesuatu menggelitikku di dunia maya, kau benar-benar dekat dengan si dia, bahkan kupingku sudah panas mendengar pertanyaan-pertanyaan tentang kalian yang mereka tanyakan padaku. Aku memang pernah menjalin hubungan denganmu tapi,, itu tak lebih dari dua hari. Mengapa mereka menanyakannya padaku. Aku muak, kupastikan sendiri padamu.
Paginya ku kirimkan pesan sebelum berangkat kekampus,
“Assalamualaikum, bagaimana hubungan kalian? Berlanjutkah sampai jenjang pernikahan?, oh iya salamku pada dia semoga kalian berjodoh,”
“waalaikum salam, salam kembali dari dia. Aamiin katanya.
Whatt? Apa-apaan ini jadi mereka benar-benar,, ahh sudahlah, 
“oh jadi kalian benar-benar ada hubungan?, seberapa jauhkah itu? Dan tidak ada lagi yah rasa itu untukku?” 
“-_-“ ia mengirimkanku emoticon itu
“aku minta jawabanmu!” gertakku
“bukankah dulu kau minta?”
“minta apa?” jawabku bingung
“kau sendiri yang bilang kalau kita saling melupakan. ketika kau khilaf jangan pernah balas SMSmu lagi apapun itu, jangan pernah sekalipun.”
    Astagfirullah dia benar, aku memang pernah mengirimkannya pesan itu, dan dia begitu ingat, sementara aku sudah lupa. Dan boleh ku katakan aku rindu.
Angkot yang mengantarkanku sampe kekampus tepat di depan ramsis, sesaat sebelum hujan ku balas pesanmu.
“ aku minta maaf, aku sendiri lupa dengan pesanku padamu, mm.. apa kau sudah berubah? Maaf kalau aku rindu.” Ku kirimkan sekali lagi padanya dengan jujur.
    Aku fokus pada pertemuan diramsis dengan kakak-kakak panitia dan teman-teman yang membahas soal pembagian acara dan penentuan tema kabaret yang akan ditampilkan nanti. Aku mengabaikan HPku. Saat kubuka pesanmu membanjiri kotak masukku. Aku baru bisa membalasnya saat perjalanan pulang.
“dina, di seonggok hatimu walau hanya se-sel, masihkah ada namaku disana?”
Aku diam hanya memandang pesan yang bejibun masuk ke HP ku,. Ku tekan huruf demi huruf dengan ragu lalu kuhapus lagi, takut salah membuat kata-kata lewat pesan singkat.
“dina, di hatimu yang baru, masihkah ada cinta untukku?.”
SMS berikutnya masuk, katanya hanya berbeda, namun tetap sama meminta pengakuan yang sama.
“dina, masihkah engkau mencintaiku?”
Aku menghela nafas, ini sudah pesan yang kesekian kalinya kuterima tentunya dari orang yang sama.
“aku hanya bilang aku rindu bukan berarti aku masih seperti dulu. Hatiku telah terganti dan sudah ada yang memberiku seonggok hati yang baru. Sudahlah ada dia disampingmu. Aku hanya berharap kita dapat berteman dengan baik. Maaf telah berbuat kesalahan padamu. bagaimana kita bisakan saling berteman?”
“ia kita bisa berteman, semoga dia jodoh terbaik bagimu”. Pesanmu menjadi penutup ketika Azan magrib terdengar, diatas angkot.

Januari 2014,,, SM
(Sarah-Al-Mustanirah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

KUMBANG DAN KEMBANG

Dunia takkan bisa mengerti
Betapa peliknya kisah ini
Saat kedua ini meniti janji
Malah terpisahkan oleh mati

Lihatlah  kembang terkuncup malu
Ditengok pula kumbang yang ragu
Sekedar menatap lucu nan lugu
Berharap mawar mekar ia menanti selalu

hari itu tiba jua
Ketika kembang menyeruak memamerkan warna
Dan lihatlah kumbang terpenganga
Menatap taman dengan sejuta pesona

Dan demi kembang penghias taman
Dekapnya kumbang penuh rayuan
Na’as kembang terbuai harapan
Tak sadar kumbanglah yang mematikan

Duhai kasian sekali kumbang ini
Didapatinya kekasih hati yang telah mati
Mati oleh tingkahnya sendiri
Dan bodoh menanti kembang lain yang ingin mekar lagi
(Sarah-Al-Mustanirah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Rasa dan Asa

Ku terjemahkan sebait rasa
Dalam bingkai sekalimat asa
Jika kau tak juga merasa
Harapku kau baca esok lusa

Dan bagaimana kau tak bisa menerjemahkan
Setitik rasa ketika kita berpapasan
Ah tidak, kau sulit paham yang tak terucapkan
Maka tentang rasa ini, haruskah kau kujelaskan

Ku takut jika rasa berubah menjadi harap
Namun pemahamanmu belum juga hinggap
Jika masih saja begitu hingga terlelap
Aku takut, aku takut kecewa jika tak kunjung dihadap

Ini bukan perkara cinta
yang hanya menyesakkan dada
ini hanya sekedar rasa yang sulit terlupa
dan juga tentang harap yang susah ku buka
(Sarah-Al-Mustanirah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Rindu

kau tau apa arti rindu?
bagiku rindu adalah sebuah bunga yang mekar
berasal dari semaian bibit cinta dan kasih sayang
tumbuh di lahan perpisahan
kau tahu, semakin lama jarak dan waktu memisahkan semakin rindu itu tumbuh, tumbuh dan tumbuh,
jadi, jangan kau berikan Hujan 'air mata' padanya,
yang membuat pucuknya semakin bercabang, semakin membesar
atau malah melayukan akibat terlalu banyak air mata padanya
biarkan saja rindu itu mekar, mewangi dan indah
tak perlu kau berikan air mata padanya
(Sarah-Al-Mustanirah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

No Title

duhai hati yang rapuh, masihkah kau merasa angkuh?
padahal engkau pernah payah, kau dididik dengan begitu susah
coba arahkan pandanganmu sejenak, 
ingat pada saat kau masih kanak-kanak
orang tuamu mengajarkan kau membaca dan menulis, 
ketika kau tak bisa yang kau lakukan hanya menangis
orang tuamu membesarkanmu dengan penuh asa
berharap kau dapat berguna ketika dewasa
bagaimana dengan apa yang mereka usahakan
untuk sekedar makan dan memperolah pendidikan
ketika kau besar pantaskah kau lupa?
dengan semua pemberian darinya
pantaskah kau lupakan?
keringat dan air mata yang mereka korbankan
duhai hati yang rapuh, masihkah kau merasa angkuh?

(Sarah-Al-Mustanirah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Marah

Marah membuncah bumi pertiwi
Menatap nanar pada setiap kehidupan kelam
Marah menghembuskan api emosi meluap
melampiaskan amarah tiada terarah

Dan tengok bumi marah
Dibelahnnya tanah menjadi dua
Diadunya manusia tanpa iba
Dilemparkan, hempaskan setiap makhluk yang ada

Lihat saja lautan meraung
Tergulung sudah ombak menyapu darat
Tsunami menyeret siapa saja yang ada
Dan lihat betapa berantakannya akibat marah

Dan gunung menancap di bumi
Peduli apa ketika marah memanas
Memuntahkan isi perutnya yang begitu muak
Melelehkan membakar menghanguskan setiap kulit yang ada

Dan lumpur, terlenalah ia menidurkan
Dan sidoarjo yang terlelap oleh lumpur yang menebal
Ia telah dinina bobokkan oleh ketidakpedulian
Hanya saja ada saja yang menagih kasihan padanya

Seberapa marah membuncah bumi pertiwi,
Tak cukupkah air yang berbicara lewat banjir
Tak cukupkah hutan yang mengucap kata abu
Tak cukupkah alam mengerahkan kekuatannya

Olehnya izinkan aku marah
Marah pada kekasih rakyat tak setia
Selingkuh pada penjarah setiap inci tanah kita
Berleha, melalaikan tapi menikmati jua kekayaan kita
(Sarah-Al-Mustanirah)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments